Homeinspiratif BERTEMU DIHARI KIAMAT🧸 Ali bin Abi Thalib menuturkan :👑Fatimah bertanya kepada Rasulullah Saw. "Ayahhanda, Dimanakah aku bisa menemuimu pada
tiada tuhan selain allah Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “…Merealisasikan la ilaha illallah adalah suatu hal yang sangat sulit. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan’. Sebagian salaf juga mengatakan Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas’. Dan tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, maka dia tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai sebab itu, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, Orang-orang Yahudi mengatakan Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat’. Maka beliau menjawab Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?’ Setan tidak akan repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur -dengan iman-,karena itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang terasa berat dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, Benarkah kalian merasakan hal itu?. Mereka menjawab, Benar’. Beliau pun bersabda, Itulah kejelasan iman HR. Muslim. Artinya hal itu merupakan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan keimanan kalian, karena perasaan itu muncul dalam dirinya sementara hal itu tidak akan muncul kecuali pada hati yang lurus dan bersih.” al-Qaul al-Mufid ala Kitab at-Tauhid [1/38] cet. Makt. al-’Ilmu Apa yang dimaksud dengan merealisasikan la ilaha illallah? Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid’ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan. Hal itu akan tercapai dengan cara menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid’ah-bid’ah.” al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 20 cet. Makt. al-’Ilmu Benarkah sesulit itu merealisasikan la ilaha illallah? Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah -seorang tabi’in- mengatakan, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Mereka semua merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa imannya sebagaimana iman Jibril dan Mika’il.” HR. Bukhari secara mu’allaq dan dimaushulkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah di dalam Tarikhnya tanpa menyebutkan jumlah sahabat yang ditemui, lihat Fath al-Bari [1/136-137] cet. Dar al-Hadits.Ibrahim at-Taimi -seorang fuqaha’ dan ahli ibadah di kalangan tabi’in- berkata,rahimahullah“Tidaklah aku hadapkan ucapanku kepada amalanku melainkan aku khawatir termasuk orang yang didustakan/tidak dipercayai nasehatnya.” HR. Bukhari secara mu’allaq dan dimaushulkan oleh beliau dalam Tarikhnya, lihat Fath al-Bari [1/136-137] cet. Dar. al-Hadits.Ibnu Hajar rahimahullah berkata -menjelaskan maksud ucapan tersebut,“Maksudnya; aku merasa takut orang akan mendustakan diriku karena melihat amalanku yang menyelisihi ucapanku, sehingga dia akan berkata, Seandainya kamu jujur niscaya kamu tidak akan melakukan sesuatu yang menyelisihi ucapanmu’. Beliau mengucapkan hal itu karena beliau sering memberikan nasehat/wejangan kepada orang-orang -sementara beliau mengkhawatirkan amalannya, pent-…” Fath al-Bari [1/136] Ibnul Qayyim rahimahulllah berkata, “… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” al-Fawa’id, hal. 34 cet. Dar al-’Aqidah Lalu bagaimana langkah mewujudkannya? Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “…Tauhid la ilaha illallah itu tidak akan terwujud kecuali dengan tiga perkara Pertama, ilmu; karena kamu tidak mungkin mewujudkan sesuatu sebelum mengetahui/memahaminya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, Ketahuilah, bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah.’ QS. Muhammad 19. Kedua, i’tiqad/keyakinan, apabila kamu telah mengetahui namun tidak meyakini dan justru menyombongkan diri/angkuh maka itu artinya kamu belum merealisasikan tauhid. Allah ta’ala berfirman mengenai orang-orang kafir yang artinya, Apakah dia -Muhammad- hendak menjadikan sesembahan-sesembahan -yang banyak- itu menjadi satu sesembahan saja, sungguh ini merupakan perkara yang sangat mengherankan.’ QS. Shaad 5. Mereka -orang kafir- tidak meyakini keesaan Allah dalam hal peribadahan -meskipun mereka memahami seruan Nabi tersebut, pent-. Ketiga, inqiyad/ketundukan, apabila kamu telah mengetahui dan meyakini namun tidak tunduk maka itu artinya kamu belum mewujudkan tauhid. Allah ta’ala berfirman yang artinya, Sesungguhnya mereka itu dahulu apabila dikatakan kepada mereka bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah maka mereka pun menyombongkan diri/bersikap angkuh dan mengatakan; apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya gara-gara seorang penyair gila?’ QS. ash-Shaffat 35-36…” al-Qaul al-Mufid ala Kitab at-Tauhid [1/55] cet. Makt. al-’Ilmu Ilmu tentang la ilaha illallah Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata, “… La ilaha illallah tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya kecuali apabila dia telah mewujudkan syarat-syaratnya yang jumlahnya ada delapan Ilmu -tentang makna la ilaha illallah, pent- yang menepis kebodohan Keyakinan yang menepis adanya keragu-raguan Keikhlasan yang menepis kemusyrikan Kejujuran yang menepis dusta/kepura-puraan Kecintaan yang menepis kebencian Ketundukan yang menepis sikap meninggalkan Sikap menerima yang menepis penolakan Mengingkari segala sesembahan selain Allah…” at-Tauhid al-Muyassar, hal. 15 Makna la ilaha illallah Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata, “…Maknanya Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Makna lain yang keliru adalah [1] Tidak ada sesembahan selain Allah. Ini keliru, sebab maknakonsekuensinya segala yang disembah benar atau salah adalah Allah. [2] Tidak ada pencipta selain Allah. Ini memang sebagian dari maknanya, akan tetapi bukan itu yang dimaksudkan; sebab seandainya itu merupakan makna la ilaha illallah niscaya tidak akan terjadi persengketaan antara Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan kaumnya, sebab mereka mengakui hal ini -yaitu keesaan Allah dalam hal mencipta, dsb. Pent-. [3] Tidak ada penetapan hukum selain oleh Allah. Ini juga sebagian saja dari maknanya, akan tetapi hal ini belum mencukupi dan bukan maksud utamanya. Sebab seandainya Allah dieesakan dalam perkara hukum namun tetap ada selain-Nya yang disembah/diibadahi -oleh seorang hamba- maka tauhid belum dianggap terwujud.” at-Tauhid al-Muyassar, hal. 13 Apa konsekuensi la ilaha illallah? Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “… konsekuensinya adalah meninggalkan peribadahan kepada segala sesuatu selain Allah, hal ini ditunjukkan oleh ungkapan penolakan yaitu dalam ucapan kita la ilaha’, dan beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, yang hal ini ditunjukkan oleh penetapan yaitu dalam ucapan kita illallah’…” at-Tauhid li as-Shaff al-Awwal al-’Aali, hal. 50 Apa itu ibadah? Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata, “Pengertiannya Secara bahasa artinya perendahan diri dan ketundukan. Adapun menurut syari’at adalah sebuah ungkapan yang mewakili segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang tersembunyi/batin maupun yang tampak/lahir.” at-Tauhid al-Muyassar, hal. 53 Apa saja pilar-pilar ibadah? Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Huwail berkata, “Pilar-pilar ibadah Kecintaan mahabbah Rasa takut khauf Harapan raja’.” at-Tauhid al-Muyassar, hal. 53 Ada apa antara cinta dengan ibadah? Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “…Pokok semua amalan adalah kecintaan. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu; maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan ia merupakan hakekat/inti daripada ibadah. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa tak ada ruhnya sama sekali padanya…” al-Qaul al-Mufid ala Kitab at-Tauhid [2/3] cet. Makt. al-’Ilmu Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “… Tidak akan sempurna tauhid seorang hamba sampai sempurna kecintaan hamba tersebut kepada Rabbnya dan kecintaan kepada-Nya harus lebih didahulukan di atas semua perkara yang dicintainya dan mengalahkan itu semua serta kecintaan kepada Allah itulah yang menghakimi semua kecintaan yang lain sehingga semua yang dicintai oleh hamba tersebut senantiasa mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan meraih kebahagiaan dan keberuntungan dirinya.” al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95 Menggapai manisnya iman dengan cinta Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang barangsiapa ketiganya terdapat dalam dirinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman. [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya. [2] Tidaklah dia mencintai seseorang kecuali karena Allah. [3] Dia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dirinya darinya sebagaimana orang yang tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” HR. Bukhari dan Muslim Kamu ini memang aneh! Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sungguh sebuah perkara yang amat mengherankan tatkala kamu telah mengenal-Nya lantas kamu justru tidak mencintai-Nya. Kamu mendengar da’i yang menyeru kepada-Nya namun kamu justru berlambat-lambat dalam memenuhi seruan-Nya. Kamu menyadari betapa besar keuntungan yang akan dicapai dengan bermuamalah dengan-Nya namun kamu justru memilih bermuamalah dengan selain-Nya. Kamu mengerti betapa berat resiko kemurkaan-Nya namun kamu justru nekat membangkang kepada-Nya. Kamu bisa merasakan betapa pedih kegalauan yang muncul dengan bermaksiat kepada-Nya namun kamu justru tidak mau mencari ketentraman dengan cara taat kepada-Nya. Kamu bisa merasakan betapa sempitnya hati tatkala menyibukkan diri dengan selain ucapan-Nya atau pembicaraan tentang-Nya namun kemudian kamu justru tidak merindukan kelapangan hati dengan cara berdzikir dan bermunajat kepada-Nya. Kamu pun bisa merasakan betapa tersiksanya hatimu tatkala bergantung kepada selain-Nya namun kamu justru tidak meninggalkan hal itu menuju kenikmatan yang ada dalam pengabdian serta kembali bertaubat dan taat kepada-Nya. Dan yang lebih aneh lagi daripada ini semua adalah kesadaranmu bahwa kamu pasti membutuhkan-Nya dan bahwa Dia merupakan sosok yang paling kamu perlukan, akan tetapi kamu justru berpaling dari-Nya dan mencari-cari sesuatu yang menjauhkan dirimu dari-Nya.” al-Fawa’id, hal. 45 Mana bukti cintamu? Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah Muhammad Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Ali Imran 31. Wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammadin wa ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil alamin. tiada tuhan selain allah,hanya kepada Mu lah aku memohon dan hanya kepada Mu lah aku bisa bermanfaat. Artikel terkait rukun islam niat islam,iman dan ihsan akhlaq zuhud aqidah syariat amar ma’ruf taqwa
Sebenarnyatiada Tuhan bagi kamu selain daripadaNya. Dialah yang menjadikan kamu dari bahan-bahan bumi, serta menghendaki kamu memakmurkannya. Oleh itu mintalah ampun kepada Allah dari perbuatan syirik, kemudian kembalilah kepadaNya dengan taat dan tauhid. Sesungguhnya Tuhanku sentiasa dekat, lagi sentiasa memperkenankan permohonan
Yes53: 1-11 – Yesaya bernubuat akan Hamba Tuhan yang menderita yang akan menanggung dosa-dosa manusia dan menjadi pendoa syafaat bagi kita. Mat 1:18-23 – Yesus dikandung oleh Maria oleh kuasa Roh Kudus untuk menyelamatkan kita; dan Ia [ Yesus] adalah Imanuel: Tuhan beserta kita. Mat 16:13-17 – Yesus adalah Sang Mesias dan Putera Allah.
Pertama Iman terhadap keberadaan-Nya. Keberadaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā adalah kebenaran yang paling hakiki: “Demikianlah (kebesaran Allah), karena Allah Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. Al-Ḥajj: 62).
KS(Revisi Shellabear 2011): Aku berkata kepada ALLAH, "Engkaulah Tuhanku, tak ada yang baik bagiku selain Engkau." KSZI: Wahai rohku, kau telah berkata kepada TUHAN, ‘Engkaulah TUHANku; tiada kebaikan bagiku selain Engkau.’ KSKK: Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah Tuhanku, satu-satunya yang baik bagiku."

TUHANKUTUHANMU TUHAN KITA Sebutan Tuhan Musa bisa jadi sama dengan sebutan Tuhan Allah atau Tuhan Yesus seperti yang diyakini oleh ummat Kristiani. Maka mata tidak melihat selain Tuhan kepercayaan.163 “Tuhan kepercayaan” adalah gambar atau bentuk Tuhan, atau pemikiran, konsep, ide, atau gagasan tentang

kementrianagamakatakanlah: "hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan allah kepadamu semua, yaitu allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada allah dan rasul-nya, nabi yang ummi yang beriman kepada allah dan kepada
Padahaltujuan sebenarnya dari diciptakannya manusia adalah untuk mengabdi beribadah kepada-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an Surat Adz-Dzaariyat ayat 56-57, yang artinya : “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan (jin) dan (manusia),melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki (rizqi) sedikitpun dari mereka dan
DownloadTiada Tuhan Selain Allah song and listen Tiada Tuhan Selain Allah MP3 song offline. Play Tiada Tuhan Selain Allah Song by Wafiq Azizah from the Indonesian album Aku Cinta Allah. Listen Tiada Tuhan Selain Allah song online free on Gaana.com. Hindi, English, Punjabi. Search Artists, Songs, Albums. .
  • 5d37073d48.pages.dev/264
  • 5d37073d48.pages.dev/189
  • 5d37073d48.pages.dev/214
  • 5d37073d48.pages.dev/249
  • 5d37073d48.pages.dev/193
  • 5d37073d48.pages.dev/202
  • 5d37073d48.pages.dev/358
  • 5d37073d48.pages.dev/445
  • allah tuhanku allah tuhanku tiada tuhan selain allah